Permasalahan sampah organik di Indonesia masih menjadi tantangan yang memerlukan solusi inovatif dan kolaboratif. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah budidaya maggot sebagai metode pengolahan limbah organik yang efisien dan ramah lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, dua alumni Departemen Sosial Ekonomi Pertanian (Sosek), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, dari Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, terlibat dalam penelitian terkait persepsi stakeholder terhadap praktik budidaya maggot.
Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan Maret hingga April di wilayah Yogyakarta dan Banyumas, serta diselenggarakan oleh Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM bekerja sama dengan EarthCare Foundation. Dalam kegiatan ini, Alumni Sosek Angkatan 2021, Nari Nawang Purbamandala, S.P. dan Alifia Khairun Naswita, S.P. berperan sebagai surveyor sekaligus asisten peneliti yang terlibat langsung dalam pengumpulan data di lapangan.
Objek penelitian mencakup berbagai lokasi budidaya maggot yang mewakili beragam stakeholder, seperti Kandang Maggot Jogja, Hayuning Bhumi Makmur, dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Purwokerto. Hasil sementara menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antar stakeholder. Kelompok masyarakat dan swasta cenderung berorientasi pada keuntungan ekonomi, sementara instansi pemerintah lebih menekankan aspek pemberdayaan masyarakat. Meskipun demikian, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu mendukung pelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Budidaya maggot memiliki potensi besar dalam mengurangi volume sampah organik, dengan kemampuan mengurai sekitar 500 kilogram hingga 1 ton sampah per hari. Namun, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan pasokan pakan, kapasitas sumber daya manusia, dukungan kelembagaan, serta kendala distribusi karena sensitivitas maggot terhadap suhu saat pengiriman. Untuk mengatasi keterbatasan pakan, para pembudidaya menjalin kerja sama dengan hotel, restoran, dan tempat pembuangan sementara (TPS) guna memastikan ketersediaan limbah organik. Selain itu, berbagai produk dihasilkan, mulai dari maggot segar, produk olahan, hingga kasgot yang dipasarkan dengan strategi berbeda sesuai target pasar.
Kegiatan ini menunjukkan kontribusi nyata alumni Sosek UGM dalam menjawab permasalahan lingkungan melalui pendekatan sosial-ekonomi dan partisipatif. Peran tersebut juga mencerminkan kapasitas keilmuan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian dalam menjembatani berbagai kepentingan stakeholder guna mendorong praktik yang berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.
Penulis: Natasya Putri Alifia, S.P.
Admin Website Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM
Dokumentasi: Alifia Khairun Naswita