Tim PKM-PM UGM BIJAK, yang dipimpin oleh mahasiswa Departemen Sosial Ekonomi Pertanian (Sosek), menjadi penggerak utama ibu-ibu PKK Dusun Kalimundu melalui pemanfaatan limbah pertanian tongkol jagung menjadi briket dengan optimalisasi pembakaran kalor. Dari lima anggota tim—Anisa Eka Zakiya, Laluna Lena, dan Asyifa Nur Afanie dari Prodi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (sosek), serta Salma Salsabila dari Teknik Kimia dan Muhammad Wildan Mustofa dari Proteksi Tanaman—tiga per lima anggotanya berlatar belakang sosek. Dengan bimbingan dari Ibu Hariyani Dwi Anjani, S.P., M.Sc. selaku dosen pembimbing PKM, menjadikan tim ini dapat memberikan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan pertanian sebagai inti program.
Dusun Kalimundu merupakan dusun agraris yang konsisten menanam jagung pada musim tanam palawija setiap tahunnya. Peningkatan produksi jagung menyisakan permasalahan sosial-ekonomi besar, yaitu limbah tongkol jagung yang menumpuk di pinggir jalan, dibakar terbuka, dan dibuang sembarangan hingga menyumbat saluran irigasi, berdampak pada degradasi lingkungan dan hilangnya potensi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal. Pendekatan sosek dari mahasiswa PKM-PM BIJAK hadir sebagai solusi berkelanjutan, menggerakkan ibu-ibu PKK—didominasi ibu rumah tangga dengan waktu luang belum optimal dimanfaatkan—untuk mentransformasi limbah menjadi briket bernilai ekonomi tinggi, sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan pemberdayaan perempuan di tingkat dusun.
Program pemberdayaan PKK Kalimundu, dirancang dengan perspektif sosek untuk memaksimalkan potensi lokal dan inklusi sosial, dilaksanakan melalui lima tahap berurutan.Kegiatan diawali sosialisasi pada 24 Agustus 2025, yang tidak hanya mengenalkan program briket berbasis tongkol jagung, tapi juga mengukur pengetahuan awal peserta tentang dampak sosial-ekonomi limbah pertanian melalui kuesioner. Pada sosialisasi, leaflet panduan diberikan sebagai alat edukasi awal, disertai video tutorial pembuatan briket yang menyoroti manfaat ekonomi dan lingkungan.
Selanjutnya, pelatihan pembuatan briket pada 31 Agustus 2025 melibatkan demonstrasi langsung proses teknis—mulai pembakaran tongkol jagung menggunakan drum pirolisis hingga pencetakan dan penjemuran—dengan penekanan sosek pada efisiensi sumber daya lokal dan pemberdayaan komunitas. Praktik mandiri pada 6 September 2025 memberi kesempatan ibu-ibu PKK mempraktikkan keterampilan secara mandiri dengan pendampingan tim, memperkuat rasa percaya diri dan kolaborasi sosial. Workshop pemasaran pada 14 September 2025 membekali peserta strategi sosek seperti penentuan harga berbasis analisis pasar lokal, pemanfaatan platform digital seperti Shopee untuk akses pasar luas, serta pengemasan produk menarik guna tingkatkan daya saing ekonomi. Program ditutup monitoring dan evaluasi pada 20 September 2025, yang identifikasi kendala sosial-ekonomi, nilai peningkatan pengetahuan via kuesioner akhir, dan bentuk struktur kepengurusan untuk jamin keberlanjutan sesuai prinsip pengembangan masyarakat sosek.
“Kami melihat semangat ibu-ibu PKK luar biasa; dari hal sederhana, mereka bisa ciptakan perubahan nyata. Pendekatan sosek kami bukan hanya ubah tongkol jadi briket, tapi juga jaga lingkungan bersih, kuatkan ekonomi rumah tangga, dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Anisa Eka Zakiya selaku ketua Tim PKM-PM BIJAK. “Kami sangat senang karena awalnya tak tahu cara buat briket jagung; kini sudah produksi sendiri dan hasilnya memuaskan. Kami harap bisa produksi dan pasarkan briket itu agar tambah penghasilan ibu-ibu PKK Kalimundu, sekaligus bangun kemandirian ekonomi dusun,” ujar Nur (peserta pelatihan). Seluruh kegiatan buahkan hasil selaras visi sosek: pengetahuan mitra naik dari 52,38% jadi 100% terkait briket jagung dan potensi ekonominya. Struktur kepengurusan Briket Jagung Kalimundu (BIJAKU) terbentuk, pastikan keberlanjutan via pengelolaan komunitas inklusif. Harapannya, inisiatif sosek ini jadikan PKK Kalimundu model pemberdayaan dusun lain, dorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal terabaikan, dan kontribusi pada pembangunan agraris berkelanjutan.
Kegiatan ini sangat selaras dengan Sustainable Development Goals (SDG) Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama SDG 5 tentang Kesetaraan Gender yang tercermin dalam pemberdayaan perempuan melalui pelibatan ibu-ibu PKK sebagai agen perubahan utama di tingkat dusun, sehingga meningkatkan peran mereka dalam kegiatan ekonomi dan sosial; SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi yang didukung oleh transformasi limbah menjadi produk bernilai jual untuk menambah penghasilan rumah tangga dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat lokal; serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, di mana pemanfaatan limbah tongkol jagung menjadi briket membantu mengurangi pencemaran lingkungan dari pembakaran terbuka dan mendorong praktik daur ulang sumber daya pertanian secara berkelanjutan.